Tampilkan postingan dengan label jalan-jalan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jalan-jalan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 21 Oktober 2012

Pameran Alutsista, Monas 2012 (bagian dua)


Melanjutkan tulisan yang sebelumnya, ini adalah kisah aku saat meneruskan ke pameran alutsista di Monas. Kali ini aku berangkat dari rumah emang niat mau ke monas, tidak seperti perjalanan kemarin yang cuma numpang lewat. Hari terakhir pameran ini ternyata jauh lebih rame daripada hari sebelumnya bahkan dampaknya sampai rute busway central senen - harmoni diubah. Deuh!

Dengan peluh bercucuran aku menerobos hutan beton Jakarta dan sampailah di Monas. Alhamdulillah. Stand pertama yang ku lihat saat masuk ke monas adalah stand infanteri memang selepas Kopassus ada stand infanteri. Stand ini sih biasa, yang dipajang cuma senjata tapi hati aku yang ga biasa pas masuk stand ini *curcol dikit. Aku sempet bertanya tentang senjata yang mereka gunakan. Kalau anggota Kopassus biasa memakai berbagai macam senjata, nah anggota infanteri biasanya memakai SS buatan Pindad. Kata mas yang menjaga stand sih biasanya mereka pakai SS 2. Nah ada pembicaraan yang kocak saat aku lagi menanyakan tentang senjata, gini:

Mas        : “Mbak Ibu Persit ya?”
Aku        : “Eh, bukan kok mas (tersipu malu tapi bilang amin. Hahaha)”
Mas        : “Kalo gitu calonnya anggota ya mbak?”
Aku        : “Eh eh (panik sendiri)”
Mas        : “Iya mbak? Calonnya anggota ya mbak?”
Aku        : “Eh.. Mmm.. Iya mas (padahal ini asal iya aja. Hahaha)”
Mas        : “Tuhkaan. Tugas dimana mbak?”
Aku        : “Jauh mas, bukan di Jakarta”
Mas        : "Iya dimana mbak?"
Aku        : "Jauh deh mas"
Mas        : "Ya dimana?"
Aku        : "Rrr.. (mulai gedek karena si mas kepo banget, akhirnya jawab sekenanya) di Papua mas"
Mas        : “Oooh kalo di Papua masih pake SS1 mbak. SS2 paling dipake di Pulau Jawa aja”

Lalu berlanjutlah perbincangan tentang senjata SS. Katanya SS2 lebih canggih daripada SS1 dan SS2 belum diedarkan ke seluruh Indonsesia. Selain senjata, stand infanteri ini juga jualan yang loreng-loreng, dan ada beberapa panser. Belakangan aku baru tahu kalau panser yang ada di infanteri itu cuma dimiliki sama Yonif Mekanis 201 di Jakarta.

Stand berikunya adalah Penerbad. Nah di Penerbad ini isinya helikopter, jangan tanyakan aku jenisnya apa karena aku ga bisa nanya-nanya sama tentara di sana. Cuma bisa nanya tentang helikopter Super Puma yang mengangkut orang-orang untuk terjun payung. Aku juga sempet ngetok-ngetok badannya helikopter, aku kira dari baja yang luar biasa keras nan kencang ternyata bahannya kayak terbuat dari plastik gitu entahlah namanya apa.

Ada juga stand Artileri Pertahanan Udara (Arhanud). Di sini alutsista yang dipajang isinya semacam roket gitu namanya juga pertahanan udara, musuhnya ada di udara. Kenapa alatnya kebanyakan seperti rudal dan roket karena tugas mereka menembakkan pesawat atau semacamnya yang ada di udara dari darat. Buat aku stand ini biasa aja. Tapi berhasil menambah pemahaman aku tentang si arhanud itu sih.

Lalu ada stand Artileri Medan (Armed). Aku gak sadar kalau ternyata aku sudah memasuki wilayah mereka karena jenis alatnya agak mirip sama Arhanud: Semacam peluncur. Aku dapet hadiah mug looh di stand armed ini, jadi aku kan dateng sendirian ya trus mungkin muka aku planga plongo kayak orang bego, disapalah aku sama bapak "melati" yang namanya pak Arief (liat di baju dinasnya. Haha) trus dikasih tebakan untuk mengartikan quote tentang artileri gitu dan aku berhasil. Alhamdulillah. Aku kembali berjalan dan menemukan beberapa miniatur peluncur dan aku mulai kebingungan karena alatnya mirip sama arhanud. Aku bertanya ke mas yang jaga stand kenapa alatnya mirip sama arhanud. Terus masnya ngejelasin kalau rudalnya arhanud itu lurus nah kalo rudalnya artileri medan bisa bengkok. Nah loh aku jadi makin bingung, terus kenapa dibedain? Apa segitu istimewanya sampe harus dipisahin? Then berceritalah si mas itu.

Katanya kalau rudalnya artileri itu bisa menembak apa yang dibalik bukit, sedangkan arhanud di udara makanya kedua kecabangan ini dipisahkan dan alatnya juga beda. Aku nanya lagi, apakah asal nembak atau gak dan ternyata katanya ga asal nembak karena sudah ada orang dari armed yang ngasih penjelasan tentang medan dan mereka ikut ke rombongan infanteri (aku lupa apa nama peran orang yang ngikut infanteri ini). Si mas ngasih gambaran perang, katanya kalo ada perang yang maju duluan adalah infanteri dan didampingi sama kavaleri. Armed sendiri ada di bagian belakang. Jadi pas infanteri maju, di situ ada orang armed yang mengetahui keadaan medan, nah berdasarkan informasi yang didapat dari lapangan itu si orang menghubungi yang megang senjata jadi ga salah tembak.

Selesai Armed, apalagi ya seingetku udah deh. Selesai deh jalan-jalan nonton alutsista hari ini. Informasi yang aku tulis ini berdasarkan apa yang aku dapat dari pameran ataupun dari hasil ngobrol sama anggota TNI lain yang ga hadir di pameran. Dari pameran kemarin itu sih aku ngerasanya antusiasme warga terhadap militer masih tinggi, kabar baik untuk mereka. Aku juga setuju kok kalo dua matra lainnya ikut menyusul bikin pameran seperti ini atau pameran ini rutin dilakukan setiap tahun. Hehehe. Saran aku untuk panitia pelaksana, tolong tempat sampah di arena pameran diperbanyak dan buka booth foto sama tentara ganteng karena tenntara-tentara yang jaga pameran laku diajak foto bareng. Hahaha.

Dirgahayu Tentara Nasional Indonesia! Jayalah di darat, laut, dan udara!




Ini adalah mug hadiah dari Armed. Terima kasih :")



 Ini adalah gapura yang menyambut kedatangan sebelum masuk ke arena



Salah satu gambar yang ada di gapura



Ini foto aku sama salah seorang Kowad. Di foto ini aku memakai masker yang bisa digunakan untuk menyaring udara. Maskernya dipajang di stand Direktorat Penelitian dan Pengembangan TNI AD.



Salah satu seragam yang dipakai saat misi perdamaian



Mobil kenegaraan yang pernah dipakai oleh Presiden RI yang pertama



Salah satu pajangan yang ada di Armed

Pameran Alutsista, Monas 2012


Ini cerita dari dua minggu yang lalu, tepatnya hari Sabtu tanggal 7 Oktober 2012 kemarin aku pergi ke pameran alutsista TNI AD di Monas. Pameran ini diadakan untuk memperingati ulang tahun TNI ke 67. Yah namanya juga alutsista, alat utama sistem pertahanan Negara, yang dipamerin jelaslah alat-alat perang yang biasa digunakan. Aku datang ke pameran ini sendirian dan awalnya sempat khawatir apakah aku akan bisa bertahan di pameran ini atau gak karena yang dipajang alat-alat yang aku ga ngerti sama sekali. Dengan modal nekad dan sotoy berangkatlah aku ke monas (sebenernya sekalian jalan menuju kantor mama juga sih).

Pertama dateng ke sana aku celingukan sendiri sempet bingung sama arena pamerannya, tapi untung ada denah lokasi yang membantu aku memahami kondisi medan *tseilah. Tempat pertama yang aku datangi adalah bagian indoor. Di bagian ini isinya perusahaan-perusahaan yang bermitra sama TNI, ada sritex, pindad, dan perusahaan lainnya yang aku ga hafal namanya. Di bagian ini juga ada stand akmil, penelitian dan pengembangan AD, sama dinas perhubungan AD.

Di stand akmil isinya ya all about akmil, mulai dari seragamnya bahkan sampai tarunanya juga dibawa untuk jaga stand dan banyak loh yang foto sama doi. Hahaha. Trus di dinas litbang AD aku sempet bertanya tentang alat-alat yang sudah mereka berhasil kembangkan, beberapa alat yang berhasil aku ingat ada alat pendeteksi air, alat pendeteksi suhu luar ruangan, rompi untuk latihan menembak yang sudah terkomputerisasi, dan masker penyaring udara. Aku sempet nyobain memakai masker penyaring ini dan rasanya pengap! Jadi si masker ini berfungsi untuk menyaring udara yang terkontaminasi, kayak di merapi kemarin itu, jadi ga perlu lagi tabung oksigen. Ada lagi stand Dinas Perhubungan TNI AD. Di stand ini dijelasin semua tentang TNI AD, mulai dari lambang, pangkat sampai warna baret di seluruh kecabangan TNI AD. Ada juga beberapa buku yang dibuat dan (sayangnya hanya) diedarkan khusus di lingkungan TNI AD. Aku dapet hadiah majalah Defender loh dari stand dinhub AD ini karena aku terus menerus nanya apakah buku-bukunya itu bener-bener ga dijual. Hahaha.

Ah iya, aku juga sempet usul sama yang jaga stand biar TNI AD bikin akun twitter kayak saudaranya, TNI AU. Sampai tulisan ini diturunkan alhamdulillah twitter resmi TNI AD resmi rilis tanggal 19 Oktober kemarin :")

Puas melihat yang di dalam, aku pun keluar. Nah sejujurnya aku lupa setelah stand ini stand apa, tapi seingetku stand Direktorat Kesehatan TNI AD. Stand ini biasa aja, malah agak serem kalo menurut aku karena ada TNI yang ceritanya terluka parah. Hhhiiiyy. Selanjutnya stand Direktorat Peralatan. Isinya kebanyakan panser dan sebagainya, aku ga begitu inget. Hahaha. Lalu ada stand Direktorat Perbekalan dan Angkatan TNI AD. Nah di sini nih aku nemu makanan yang langka di bumi Indonesia: TB dan kroni-kroninya. Setelah sekian lama akhirnya aku bisa makan lagi yang namanya biskuit TB dan nasi ransum. Gretong! Alhamdulillah. Di stand ini dipamerkan juga sleeping bag yang bisa terapung di atas air. Ada Havercraaft juga dong dibawa ke monas. Totalitas. Aku sempet nanya sama tentara yang menjaga kendaraan ini katanya dibawanya pakai container. Niat luar biasa!

Nah aku bener-bener lupa sama stand yang berikutnya. Topografi kalo ga salah. Nah ini kan kerjaannya tentang pemetaan, jadi alutsista yang kemarin dipamerkan ya ga jauh-jauh dari itu GPS, solar cell, dan pesawat kecil (bikinnya kerjasama dengan ITB) untuk memfoto permukaan. Ada juga stand Kostrad isinya pakaian mereka dan senjata-senjata yang mereka gunakan. Ada dua baju yang menarik perhatian aku: baju hitam yang sama seperti bajunya Gultor Kopassus dan baju sniper. Yang baju hitam itu ternyata emang sama seperti yang di Gultor, biasa dipakai sama Raider dan Zeni. Terus baju sniper ini lucu kayak benang-benang yang terjuntai belum terjahit, oh kalau tahu Sully di Monster.Inc nah bajunya mirip sama bulunya si Sully itu, kriwel-kriwel ga keruan tapi enak dipegang #eh.

Di Direktorat Zeni banyak juga yang menarik perhatian aku misalnya mesin untuk pembersih air yang ternyata airnya bisa diminum beneran, ada juga mesin pencacah enceng gondok, mesin pencacah sampah, dan mesin penjinak bom. Kayaknya Jihandak emang masuk Zeni (dan aku baru tahu itu). Terus aku kira Zeni kerjaannya cuma konstruksi aja, jadi bikin bangunan terus tapi ternyata enggak karena ada juga bagian destruksi.


Nah, ini stand yang paling menarik untuk aku: stand Kopassus. Hihihi. Aku kan emang udah baca buku “Kopassus untuk Indonesia” tapi baru bener-bener mendalami *tseilah pas pameran ini. Perkenalan alat-alat mereka kemarin betul-betul membuka mata aku tentang pembagian dalam Kopassus. Jadi di depan stand mereka ada sekitar enam ranpur (kendaraan tempur) yang dipamerkan. Belakangan aku baru tahu kalau itu semua yang memakai adalah Satgultor (Satuan Penanggulangan Terror) Kopassus. Nah untuk kecabangan yang lainnya (free fall, daki serbu, dan penyelam) alat-alatnya dipamerkan di dalam. Ada alat yang bikin aku mupeng, alatnya penyelam. Jadi penyelam di Kopassus ga perlu tuh bawa tabung seperti diver kebanyakan, mereka ada alat sendiri bentuknya agak kotak yang diletakkan di dada yang berfungsi untuk mengubah karbondioksida menjadi oksigen. Cool berat! Ga perlu tabung oksigen bukan berarti mereka ga punya sama sekali, Kopassus masih memakai juga kok tabung oksigen tapi tergantung situasinya. Si alat yang diletakkan di dada ini punya kelebihan dengan tidak mengeluarkan gelembung jadi guna banget untuk operasi yang butuh penyamaran. Wetsuit yang mereka sih pakai wetsuit biasa, tapi alat pengukur kedalaman, kompas, dsbnya yang punya Kopassus wowww berat. Mau doong diving sama orang Kopassus. Dua kecabangan (gultor dan penyelam) itu sih yang bikin aku pingin bilang wow sambil koprol. Hahaha. Ada lagi yang mau aku acungin jempol dari stand Kopassus: tertib dan bersih. Tertib karena orang Kopassusnya mengatur areanya sendiri dengan menggunakan pengeras suara dan menyediakan tempat sampah di lingkungan stand mereka. Fyi, seliat aku cuma di stand kopassus ini yang ada tempat sampahnya. Emang deh ga heran kalo namanya pasukan khusus.


Emm.. Perjalanan aku berakhir di sini karena udah ditungguin mama di kantornya (Aku ditelfonin berkali-kali!). Ga terasa banget aku menghabiskan waktu sekitar 4 jam di monas dan belum sempet ke semua bagian. Hahaha. Makanya aku berebcana ke monas lagi hari Minggu, pas hari terakhir pameran. Hihihi.

Selasa, 28 Agustus 2012

Hatur nuhun Bandung!

Tanggal 10 sampai 12 Agustus 2012 aku dan Berwi melakukan perjalanan ke Bandung.

Aku dan Berwi berangkat hari Jumat tanggal 10 Agustus 2012 dengan menggunakan travel Baraya yang berangkat dari Tanjung Barat jam 10 pagi. Harganya naik (mungkin karena weekend dan menjelang lebaran) jadi 68 ribu padahal biasanya gak segitu. Perjalanan sekitar 2 jam sampai di Bandung sekitar jam 13 terus kita langsung melakukan perjalanan berikutnya: menuju Pasir Impun! Di tempat itulah aku dan Berwi akan menumpang nginap di rumah teman tercinta, Yasinta D**i.

Sampailah kita di Pasir Impun. Bener-bener gak ada bayangan Pasir Impun itu daerah macam apa sampai akhirnya Yashi datang menjemput dan terlihatlah daerah itu kayak apa. Jadi jalanannya menanjak dan sudah ramai, gak ada angkutan umum yang ada cuma ojek dengan helm pink, dan jalanannya agak rusak. Namun di samping itu semua jalanannya memberikan pemandangan yang bagus yaitu kota Bandung dari atas, jadi kalau lewat jalan itu malam hari akan banyak lampu-lampu kecil yang dapat terlihat dari ketinggian. Baguus.

Sampai di rumah Yashi, kami beres-beres bentar, leyeh-leyeh sambil nunggu waktu Ashar. Setelah itu, kita pergi ngabuburit dengan menggunakan dua motor. Kita belum tau akan buka puasa di mana, tapi tujuan pertamanya adalah: pusat pendidikan infanteri. Pusdikif Bandung. Beberapa bulan yang lalu keluarganya Yashi sempat tinggal di situ karena Bapaknya kerja di Pusdikif terus dia nunjukkin deh rumahnya yang lama. Aku dikasih hadiah tambahan sama Yashi: diajak jalan-jalan keliling komplek perumahan tentara. Sounds silly but that was cool. Dan aku seneng banget. Hahaha.

Nah dari situ baru deh kita cari tempat makan untuk buka puasa. Awalnya, pilihan jatuh pada "Bebek Slamet" tapi aku dan Berwi menolak karena resto itu ada di Jakarta. Belakangan aku  baru tahu Yashi milih Bebek Slamet yang deket Pusdikif karena di situ sering ada akustikannya gitu. Akhirnya kita makan di Bancakan. Rumah makan yang ramai dan cukup murah menurut aku.

Rumah makan Bancakan ini rrraaammmmeeeee banget. Ngantri makannya sampe 3 meter lebih. Mungkin karena modelnya rumah makan prasmanan jadi semuanya yang mau ambil jadi harus antri dulu. Rumah makan ini lucu deh, modelnya kuno gitu dan harganya relatif murah. Rasanya seru kalo nraktir temen2 di sini *ga mau rugi. Hahaha. Dari rumah makan Bancakan kita meluncur ke Jln Braga, took some pictures. Dari Braga kita pulang, sholat, dan istirahat.

Hari berikutnya kita keluar dari siang, abis zuhur. Meluncur ke Cimahi untuk nengokin yang lagi pendidikan. Ternyata Bandung-Cimahi-Bandung cukup memakan waktu juga. Mana akhir pekan, jalanan ikut macet. Kita sampe Cimahi sekitar jam 2 siang terus pas sampai Bandung lagi udah jam 5 sore, padahal cuma sebentar aja di Cimahi karena jalanan macet dan kita juga ngejar buka puasa di SMAnya Yashi di Buah Batu. Sampailah di SMAnya Yashi dan masih kosong krik krik. Ga sekosong itu sih tapi cukup membuat Yashi males buka puasa di situ. Hahaha.

Setelah diajak jalan-jalan di deket SMAnya Yashi (naik motor, bukan jalan kaki) pilihan buka puasa jatuh padaaa *drum rolls* Gampoeng Aceh! Rumah makan yang ada mushollanya, itu yang jadi pertimbangan utama kita. Tapi gak juga sih, overall rumah makannya menarik, dari interior, ragam makanannya, rasanya, sampai free takjilnya. Hihihi. Yang paling aku suka di sepanjang jalannya itu ada banyak makanan, salah satunya pisang ijo sebrang gampoeng aceh yang rasanya enak dan harganya 7ribu rupiah. Worth it lah.

Abis makan di Gampoeng Aceh kita nyobain martabak San Fransisco yang letaknya masih di deket Gampoeng Aceh. Pas liat price list-nya "Duh harganya kok begini, tapi udah kadung penasaran sama rasanya" tapi akhirnya tetep beli juga martabak telor yang harganya medium. Daripada gak beli terus nyesel seumur hidupkan?

Makan sudah, martabak juga sudah di tangan kita lalu meluncur ke SMAnya Yashi. Sekolahnya guede banget. Di situ gw sama Berwi gosipan mojok berdua sambil nungguin Neng Yashi reunian sama temen-temennya. Di SMA itu juga pertama kali aku makan martabak telor San Fransisco dan langsung jatuh cinta pada gigitan pertama. Aaaahh enak banget rasanya.

Agenda malam ini selesai, ditutup dengan makan martabak bareng di kamar Yashi. Besoknya kita balik ke Jakarta, dijemput di rumah Yashi sama temen lainnya yang ada di Bandung juga. Setelah ngobrol sana sini sama orang tua Yashi kita pun pamit, agak menyedihkan *lebay. Bapak-Ibunya Yashi asyik banget, bapaknya cerita kalau beliau suka lari lintas alam dari satu gunung ke gunung lain dan mendengar ceritanya tentang itu menarik banget. Bapaknya juga cerita tentang tempat dinasnya dulu. Menyenangkaan. Oh, kalau mamanya Yashi jago bikin pepes ikan, aku suka banget sama pepes buatannya. Hihihi. Makasih yaa om dan tante :')

Nah, jadi temen kita yang jemput ini namanya Ilham. Ini pertemuan kedua aku sama dia, karena awalnya emang temennya Berwi. Jadi Mas Ilham ini harus menjemput pesawat yang mendarat di Bandara Husein jam 11 untuk ngambil kiriman sedangkan kita baru cuss dari rumah Yashi di Pasir Impun hampir jam setengah 11. Walhasil si Mas Ilham ngebut bawa mobilnya, dari ngembat jalur lawan sampai ngebut di jalanan berlubang. But that was okay mas, aku sama Berwi faham kok *peace. Kekejar tuh, jam 11 kurang sampai di bandara. Yeay!

Kiriman terselamatkan dan semua senang. Terus kita dianter beli oleh-oleh di prima rasa dan brownies amanda. Eeh dapet bingkisan juga dari Mas Ilham: maicih empat kantong! Assiikk. Buah tangan sudah didapat dan sekarang waktunya pulang. Kita diantar ke Leuwi Panjang untuk naik bis Primajasa jurusan Lebak Bulus. Thank you for your kindness mas :)

Bis Primajasa harga tiketnya juga naik loh, jadi 60ribu. Di bis aku sama Berwi kebanyakan tidur soalnya mau gosipan juga gimana, wong lagi puasa. Kita berpisah deh di Pasar Rebo. What a nice short vacation. Makasih ya Yashi dan Berwi dan Hatur nuhun Bandung! :)

Yashi, Berwi, dan aku di Gampoeng Aceh

Selasa, 24 Juli 2012

Kilauan Kiluan

Waaahh.. Sudah lama ya gak nulis di blog. Maklum, seringkali ada aja kegiatan yang bisa menghambat aku untuk menulis dan membagi cerita. Tapi pagi ini, dengan duduk di salah satu restoran donat di Cilandak Town Square aku mau membagi cerita ku di awal bulan Juni ini: Kiluan!

Yup mungkin ada beberapa yang udah pernah dengar tentang Kiluan, betapa indah dan sepinya pantai itu. Kiluan itu sebuah pulau yang terletak di Lampung bagian selatan. Konon katanya Kiluan itu memiliki arti 'harapan' karena ada beberapa tetua (atau raja ya?) Lampung yang berharap untuk dimakamkan di pulau itu makanya disebut Pulau Kiluan. Oh dan Kiluan itu sudah dijadikan tempat wisata dari awal tahun 1990-an tapi hanya terbatas untuk wisatawan mancanegara nah sejak krisis moneter 1998 pengunjung Kiluan ikut berkurang nah penduduk setempat mulai mencari cara untuk menghidupkannya kembali dengan promosi ke wisatawan lokal. Pulau ini sudah mulai dibuka ke wisatawan lokal kira-kira sejak tahun 2002 tapi aku baru tahu ada pulau (bahkan dulu aku ngiranya pantai!) ini tahun 2011. Hahahaa betapa basinya aku.

Sekarang aku mau cerita tentang perjalanan aku ke pulau itu :)

Aku pergi sama temen-temen kantor, berangkat hari Jumat malam (ba'da Isya) dari kantor yang letaknya di kawasan Sudirman menuju ke pelabuhan Merak. Kami melewati tol Jakarta-Tangerang beradu dengan truk-truk yang berukuran jumbo. Jalan sehabis Isya dari Sudirman, kami naik kapal tengah malam. Yaa lama perjalanannya sekitar 3 jam lah yaa dari Sudirman ke Merak.

Di kapal, kami udah ga dapat ruangan yang ber-AC akhirnya duduk di kelas ekonomi. Ini pertama kali aku naik kapal feri yang menyeberang ke Lampung. Jadi yang aku tulis yaa yang setahu aku aja. Di kelas ekonomi ini ramai sampai ada beberapa orang yang ga dapet tempat duduk akhirnya menepi ke pinggiran kapal (dek ya namanya?). Malam, dingin, ngantuk, paling enak makan pop mie nah temen ku beli satu pop mie harganya 12ribu aja dong. Oke itu intermezo. Di ruangan ini, namanya juga ekonomi ya banyak orang ngerokok jadi bau asep :(

Kerjaan aku di kapal tiduurr aja, ada yang jualan juga tetep aja tidur. Daan menjelang subuh rombongan tiba di Lampung (Yeay!) Kami melanjutkan perjalanan ke Pulau Kiluan dan berhenti sesaat hanya untuk sholat subuh, makan pagi, dan menjemput guide. Perjalanan dari Bakauheni ke Pulau Kiluan jauh juga ternyata karena rombongan baru sampai di dermaga untuk nyebrang ke Pulau Kiluan tuh tengah hari. Berapa lama ya? Mmm.. Sekitar 6-7 jam lah yaa dari Bakauheni.

Tapi yaa di jalan menuju ke dermaga itu serru banget. Mataku dimanjakan (tseilah) dengan pemandangan indah gunung-laut-perkampungan dan ada markas marinir (eh ini oot). Terus kontur jalannya juga seru banget bikin yang nyupir dan penumpang ga bisa tidur karena ada jalan yang agak rusak.


Nah itu salah satu jalan yang harus dilewati untuk menuju Kiluan. Ga semua jalan menuju dermaga Kiluan bentuknya menyeramkan seperti ini, ada jalan yang halus, gronjel-gronjel, dan jalan perkampungan. Pemandangannya pun luar biasa karena ganti-ganti kadang hutan, kadang kampung, dan yang paling menakjubkan ada satu jalan yang (karena ini jalannya naik-turun yaa) pas kita posisi nanjak di depan mobil itu ada pemandangan laut jadi seakan-akan lautnya di atas mobil. Subhanallah.

Oke, skip tentang perjalanannya. Akhirnya sampailah di dermaga untuk menyebrang ke Pulau Kiluan. Fyi, saat sampai di dermaga itu panas bangget yaa, temen-temenku sampai langsung pakai sunblock. Hahaha. Dari situ kami naik kapal (aku sih dengernya namanya Ting-Ting dan yang keinget sampe sekarang namanya ya Ting-Ting itu :P) yang kayak sampan terus ada empat bilah bambu di sisi kiri kanannya. Satu perahu bisa muat sekitar 3-6 orang plus barang bawaan. Lagi-lagi aku menyebut nama Allah saat naik perahu ini. Bagus banggeett lautnya. Kiluan itu letaknya di teluk jadi lautnya masih tergolong dangkal dan airnya jernih banget :')

Voila! Sampailah kami di penginapan. Penginapan sederhana, bangunan bertingkat berdinding kayu dan terdiri dari enam kamar. Kami yang udah antusias bangget langsung nge-tag kamar, beberes bentar dan langsung kecipak kecipuk di air laut pake alat snorkel sewaan dan berenang di tepian laut sambil ngeliat bawah laut, tanpa guide karena guidenya masih dipake sama kelompok lain. Hati-hati looh ga semua pantai di Kiluan ini bebas batu, ada beberapa lokasi yang karangnya nyakitin dan tajam-tajam.

Akhirnya beberapa teman baru snorkeling sore hari. Aku memilih gak ikut karena mau foto-foto cantik sore hari di tepi pantai karena besok sore udah gak di Kiluan lagi. Sore datang dan aku dan beberapa wanita cantik lainnya foto-foto di tepi pantai. Pasirnya putiiihh dan bersiiihh. Malamnya, kami makan bersama dengan bakar-bakaran ikan dan beberapa makanan lainnya yang sudah disiapkan oleh pemiliki penginapan.

Besok paginya aku bangun pagi dengan semangat karena akan pergi melihat lumba-lumba. Aku kira awalnya akan ada spot tertentu untuk melihat lumba-lumba. Ternyata tidak sodara-sodara. Jadi aku harus naik kapal kayu itu dulu satu perahu empat orang (udah termasuk tukang perahunya) terus dibawa muter-muter ke laut hampir ke samudra Hindia ga ada spot khusus jadi kayak berburu lumba-lumba aja sedapetnya dimana. Cukup lama juga totalnya 3 jam kali ya pulang-pergi. Itu juga ngeliat lumba-lumbanya tergantung keberuntungan. Pas kapal aku (mungkin karena isinya orang-orang baik) jadi sering ngeliat lumba-lumba ada yang berenang biasa, loncat, sampe salto. Nah tapi ada temen yang lainnya cuma ngeliat dua lumba-lumba, bayangkan segitu jauhnya ke tengah laut cuma ngelihat dua itu pun sirip atasnya aja. Yaa nasip lah yaa.
Namun, sekali lagi aku merasa kebesaran Allah saat naik kapal melintasi lautan yang super duper luas itu, aku tiba-tiba ingat Surat Ar-Rahman ayat 24: "Dan Kepunyaan-Nyalah bahtera-bahtera yang tinggi layarnya di lautan laksana gunung-gunung" :")

Sehabis lihat lumba-lumba, gak sampe zuhur kami segera kembali ke Pulau Sumatera dan meninggalkan kenangan di Pulau Kiluan. See you again Kiluan <3

Selamat datang di Teluk Kiluan. Horeeee!!


Sore hari di Kiluan

Itu dia sirip lumba-lumbanya. Uuuuu~ 

These are my favorite girls :*


Minggu, 06 Februari 2011

surabaya

Tanggal 27 Januari kemarin aku jalan-jalan ke Surabaya. Sebenarnya sih, jalan-jalan di kota pahlawan ini hanya 'bumbu' karena perjalanan utamanya adalah menuju Jember. Namun, kalau aku hanya ke Jember saja tanpa mengitari Surabaya rasanya sayang sekali. Jadilah aku mengitari kota Surabaya dan kemudian lanjut ke Jember.

Aku berangkat dari Jakarta dengan menaiki kereta Gumirang, aku ikut di kelas bisnis karena gak ada biaya. Hehee. Berangkat dari Jakarta sekitar jam 6 sore dan sampai di Surabaya sekitar jam 7 pagi esok harinya. Kereta ini memang mengalami keterlambatan.

Sampailah aku di stasiun Ps.Turi. Rencananya, Adi,temanku, mau menjemputku di stasiun itu tapi sepertinya ia terlambat datang. Aku menunggu di dalam stasiun dan tak lama ku lihat banyak rombongan Kopassus yang berjalan melewatiku, mereka masih muda dan tampak keren di mataku. Hahaa..

Aku memutuskan untuk menunggu di warung the karena Adi masih lama, aku sempat ngobrol dengan para tukang becak di sekitar situ. Tak lama kemudian aku melihat ponsel, ternyata Adi sudah sampai.

Kami lalu pergi naik sepeda motor, berdua dengan Adi mengitari kota Surabaya. Tujuan pertama kami adalah mencari makan. Ia mengajakku mencari makanan berupa pecel di dekat sebuah bunderan dan tugu *aku lupa namanya* tapi ternyata pecelnya tidak buka. Lalu ia mengajakku ke SMA komplek, yang terdiri dari SMA 1, 2, 8, dan 9. Kami melihat ada soto di sana, karena bingung mau makan di mana akhirnya kami memutuskan makan soto di situ. Enaknyaaa apalagi ada koya. Yummy...

Aku melihat bagaimana soto itu diracik. Pertama nasi ditaruh di dalam mangkuk; lalu masukkan mie basah, bukan bihun tapi mienya putih dan agak besar; lalu ada potongan daging ayam; tetelan ayam jika suka; telur; daun seledri dan bawang goreng; masukkan kuah soto; dan terakhir taburan bumbu koya di atasnya. Ya ampuunn.. Enak sekali soto ayam surabaya ini. Subhanallahhh.. :9

Sabtu, 11 Desember 2010

Hello there!

Hai.. Mau nyampah sebentar untuk berbagi perasaan kangen. Kangen banget sama orang 'baru' ini. Dia orang baru yang memunculkan senyum di bibirku dan membuatku merasa seperti jatuh cinta lagi. Sebenernya sih belum sepenuhnya jatuh cinta, tapi orang ini bisa memberikan aku perasaan yang bahagia dan membuatku lupa dengan orang yang lama. Hahaa.. Secepat itu ya.

Meet Kang Y. Dia kupanggil kang karena dia yang minta dipanggil begitu. Aku ketemu sama dia di tanah yang sama dengan Bang R, Sota. Kang Y ini menarik, caranya berbicara itu lucu, kayak malu-malu gitu. Terus yang aku suka dari dia adalah dia sopan sekali, sama semua orang makanya wajar kalau warga di desa tempatnya bertugas sangat menyukainya. Kang Y juga tidak pernah lupa mengucapkan terimakasih kepada orang lain. Dia tipe pria yang aku yakin dapat dengan mudah mengambil hati mama.

Singkat kata, aku sekarang kangen dengan Kang Y. Astaga. Kangen. Yep, itu kata yang tepat untuk menggambarkan perasaan aku ke Kang Y. Mau sms duluan, bingung. Nungguin dia sms, kayak nunggu dapet hadiah mobil Jaguar, kalo ga sms juga bingung kangennya mau dikemanain. Kangen.. Kangen.. Kangen.. Tadi aku nyari namanya dia di Facebook, eh gak ada. Yasudahlah displacementnya jadi nulis aja di sini sambil melihat-lihat gambar Kawah Putih dan Situ Patenggang.



Itu kawah putih



Ini juga kawah putih. Kawah putih adalah tempat yang romantis menurut aku. Warnanya sahdu, suasananya sepi, terus agak-agak bau gimana gitu, berasap, sumpah ya keren banget. Yaa sejujurnya sih aku belum pernah ke sana, ini cuma berdasarkan hasil observasi foto dan cerita dari orang-orang aja. Hahaa.. Atau mungkin juga aku merasa kawah putih adalah tempat yang romantis karena film "Heart" ya? Gak taulah, pokoknya aku mau ke sana. Mau banget. Apalagi perginya sama Kang Y. Heheee..

Satu tempat lagi yang menurut aku romantis, meet Situ Patenggang



Ini juga tempat yang bagus dan lagi-lagi lokasinya di Ciwidey. Danau yang masih jernih dan sepi, kayaknya seru untuk naik kapal berdua. Hahaa.. Mau ke sana, mau banget ke sana, tapi perginya sama Kang Y ga mau sama yang lain. Allah, bawa aku ke tempat-tempat itu sama Kang Y Ya Allah. Semoga Kang Y bisa cepat kembali ke Pulau Jawa, bertemu denganku di Jakarta dan membawaku ke sana. Amin.

Allah, ku mohon, kabulkan doaku Ya Allah.

Terus cerita kangennya kemana ya? Cerita kangennya pergi, menguap, tertutup dengan impian dan keinginan untuk ke Ciwidey sama Kang Y. Hehee.. See, ngebayangin di aja udah bisa membuatku senang.

See you soon in Jakarta Kang Y :)

Sabtu, 05 Juni 2010

Pendakian Gunung Pangrango

Mau cerita aja, jadi akhir bulan Mei kemarin yaitu tanggal 29 sampai 1 Juni 2010 saya dan teman-taman mendaki Gunung Pangrango. Tujuan pendakian adalah untuk Pelantikan Anggota baru Gandewa. Pendakian ini diadakan saat long weekend, makanya kami kena sial dengan penutupan jalur ke Puncak untuk bus umum. Kami kejebak di Ciawi selama 4 jam dan itu membuat kacau rundown yang sudah dibuat beberapa hari sebelumnya.

Kami mulai naik dari Cibodas pagi keesokan harinya, lalu ke arah Cibeureum. Seperti sudah diketahui oleh banyak orang, jalur Cibodas yang berbatu itu menyebalkan banget karena membuat kaki sakit dan kalo gak hati-hati bisa bikin kepeleset, apalagi pas hujan. Sesampainya di pos Cibeureum, saya semangat banget soalnya dikirain jalanan berbatu sudah berhenti. Ternyata, salah besar. Jalanan berbatu masih terus ada (yaahh walaupun jalanan berbatunya gak seberbatu yang di Cibodas siih)sampai air panas.

Beruntungnya di air panas, kaki ini kena air yang panas (apasih ?) jadinya pegel agak berkurang sedikit deh. Fyuuh. Lanjut lagi jalannya, sampai ke kandang Batu. Di kandang batu udah mendingan nih, jalannya udah gak berbatu. Udah berupa tanah, senangnyaa :). Di kandang batu inilah, kami memutuskan untuk nge-camp karena hari sudah sore. Di kandang batu ini seru deh, ada sumber air yang gak begitu jauh jadi enak aja buat nge-camp.

Besok paginya lanjut jalan lagi ke arah Kandang Badak. Jalanannya gak begitu susah kok, jadi bisa ditempuh dengan agak cepat. Lanjut jalan ke arah gunung Pangrango. Nah, di jalanan ini nih agak seru karena banyak pohon yang malang melintang di tengah jalan. Selain itu, naikannya juga agak curam. Untungnya, di setiap tanjakan yang agak susah selalu ada tanjakan yang dibuat mudah walaupun jalannya harus agak memutar. Sekitar jam 2 siang kami sampai di Puncak Pangrango. Senangnyaaa. Apalagi bisa melihat Puncak Gunung Gede yang disinari sinar matahari sore. Woow. Subhanallah deh okenya.



ini jalanan menuju puncak Pangrango. Grrrr


Kami memutuskan untuk nge-camp di Mandalawangi yang lokasinya gak jauh dari Puncak Pangrango. Kami mencari tempat yang agak tersembunyi oleh bunga-bunga edelweis dengan tujuan bisa terlindung dari angin dingin Mandalawangi.
Paginya, Mandalawangi sudah siap melepas kepulanga kami. Pagi di Mandalawangi gak kalah oke sama pagi di Puncak Pangrango! :)



Foto kami di Mandalawangi