Sumpah pemuda tahun 2012 ini sepi. Perayaan di TV juga sepi. Ga Asjik.
Aku jadi inget pas ada sumpah pemuda tahun 2008.
Saat itu aku masih semester satu di kampus jaket kuning. Aku dan teman-teman lainnya diundang untuk mengikuti acara sumpah pemuda yang ditayangkan langsung di beberapa stasiun TV nasional. Acaranya dilaksanakan di Stadion Gelora Bung Karno Jakarta. Ada banyak banget pertunjukan menarik di sana: tarian tradisional, penyanyi-penyanyi tenar, atraksi TNI, marching band dari taruna, dan baanyak lainnya. Bahkan presiden dan jajarannya juga hadir di sana.
Bukan, bukan perayaan heboh seperti itu yang aku mau, tapi prosesi mengenang makna sumpah pemuda.
Kalau kita bertanah air, berbangsa, dan berbahasa satu: Indonesia.
Bahwa perbedaan yang ada itu memperkaya kita bukan memperkeruh.
Bahwa perbedaan itu justru bisa menyatukan bukan saling menyakitkan.
Aku jadi ingat "jas merah". Jangan sekali-kali melupakan sejarah.
Bangun pemudi pemuda Indonesia
Lengan baju mu singsingkan untuk negara
Masa yang akan datang, kewajiban mu lah
Menjadi tanggungan terhadap nusa
Minggu, 28 Oktober 2012
Minggu, 21 Oktober 2012
Pameran Alutsista, Monas 2012 (bagian dua)
Melanjutkan tulisan yang sebelumnya, ini adalah kisah aku saat meneruskan ke pameran alutsista di Monas. Kali ini aku berangkat dari rumah emang niat mau ke monas, tidak seperti perjalanan kemarin yang cuma numpang lewat. Hari terakhir pameran ini ternyata jauh lebih rame daripada hari sebelumnya bahkan dampaknya sampai rute busway central senen - harmoni diubah. Deuh!
Dengan peluh bercucuran aku menerobos hutan beton Jakarta dan sampailah di Monas. Alhamdulillah. Stand pertama yang ku lihat saat masuk ke monas adalah stand infanteri memang selepas Kopassus ada stand
infanteri. Stand ini sih biasa, yang dipajang cuma senjata tapi hati aku yang ga
biasa pas masuk stand ini *curcol dikit. Aku sempet bertanya tentang senjata yang
mereka gunakan. Kalau anggota Kopassus biasa memakai berbagai macam senjata,
nah anggota infanteri biasanya memakai SS buatan Pindad. Kata mas yang menjaga
stand sih biasanya mereka pakai SS 2. Nah ada pembicaraan yang kocak saat aku lagi menanyakan tentang senjata, gini:
Mas : “Mbak Ibu Persit ya?”
Aku : “Eh, bukan kok mas (tersipu malu tapi bilang amin. Hahaha)”
Mas : “Kalo gitu calonnya anggota ya mbak?”
Aku : “Eh eh (panik sendiri)”
Mas : “Iya mbak? Calonnya anggota ya mbak?”
Aku : “Eh.. Mmm.. Iya mas (padahal ini asal iya aja. Hahaha)”
Mas : “Tuhkaan. Tugas dimana mbak?”
Aku : “Jauh mas, bukan di Jakarta”
Mas : "Iya dimana mbak?"
Aku : "Jauh deh mas"
Mas : "Ya dimana?"
Aku : "Rrr.. (mulai gedek karena si mas kepo banget, akhirnya jawab sekenanya) di Papua mas"
Mas : “Oooh kalo di Papua masih pake SS1 mbak.
SS2 paling dipake di Pulau Jawa aja”
Lalu berlanjutlah perbincangan
tentang senjata SS. Katanya SS2 lebih canggih daripada SS1 dan SS2 belum
diedarkan ke seluruh Indonsesia. Selain senjata, stand infanteri ini juga
jualan yang loreng-loreng, dan ada beberapa panser. Belakangan aku baru tahu
kalau panser yang ada di infanteri itu cuma dimiliki sama Yonif Mekanis 201 di
Jakarta.
Stand berikunya adalah Penerbad.
Nah di Penerbad ini isinya helikopter, jangan tanyakan aku jenisnya apa karena
aku ga bisa nanya-nanya sama tentara di sana. Cuma bisa nanya tentang helikopter
Super Puma yang mengangkut orang-orang untuk terjun payung. Aku juga sempet
ngetok-ngetok badannya helikopter, aku kira dari baja yang luar biasa keras nan kencang ternyata bahannya kayak terbuat dari plastik
gitu entahlah namanya apa.
Ada juga stand Artileri
Pertahanan Udara (Arhanud). Di sini alutsista yang dipajang isinya semacam roket gitu namanya juga pertahanan
udara, musuhnya ada di udara. Kenapa alatnya kebanyakan seperti rudal dan roket
karena tugas mereka menembakkan pesawat atau semacamnya yang ada di udara dari
darat. Buat aku stand ini biasa aja. Tapi berhasil menambah pemahaman aku
tentang si arhanud itu sih.
Lalu ada stand Artileri Medan
(Armed). Aku gak sadar kalau ternyata aku sudah memasuki wilayah mereka karena
jenis alatnya agak mirip sama Arhanud: Semacam peluncur. Aku dapet hadiah mug
looh di stand armed ini, jadi aku kan dateng sendirian ya trus mungkin muka aku
planga plongo kayak orang bego, disapalah aku sama bapak "melati" yang namanya
pak Arief (liat di baju dinasnya. Haha) trus dikasih tebakan untuk mengartikan
quote tentang artileri gitu dan aku berhasil. Alhamdulillah. Aku kembali
berjalan dan menemukan beberapa miniatur peluncur dan aku mulai kebingungan
karena alatnya mirip sama arhanud. Aku bertanya ke mas yang jaga stand kenapa
alatnya mirip sama arhanud. Terus masnya ngejelasin kalau rudalnya arhanud itu
lurus nah kalo rudalnya artileri medan bisa bengkok. Nah loh aku jadi makin bingung,
terus kenapa dibedain? Apa segitu istimewanya sampe harus dipisahin? Then
berceritalah si mas itu.
Katanya kalau rudalnya artileri
itu bisa menembak apa yang dibalik bukit, sedangkan arhanud di udara makanya
kedua kecabangan ini dipisahkan dan alatnya juga beda. Aku nanya lagi, apakah asal
nembak atau gak dan ternyata katanya ga asal nembak karena sudah ada orang dari armed yang
ngasih penjelasan tentang medan dan mereka ikut ke rombongan infanteri (aku
lupa apa nama peran orang yang ngikut infanteri ini). Si mas ngasih
gambaran perang, katanya kalo ada perang yang maju duluan adalah infanteri dan didampingi sama kavaleri. Armed sendiri ada
di bagian belakang. Jadi pas infanteri maju, di situ ada orang armed yang
mengetahui keadaan medan, nah berdasarkan informasi yang didapat dari lapangan itu
si orang menghubungi yang megang senjata jadi ga salah tembak.
Selesai
Armed, apalagi ya seingetku udah deh. Selesai deh jalan-jalan nonton alutsista
hari ini. Informasi yang aku tulis ini berdasarkan apa yang aku dapat dari
pameran ataupun dari hasil ngobrol sama anggota TNI lain yang ga hadir di
pameran. Dari pameran kemarin itu sih aku ngerasanya antusiasme warga terhadap
militer masih tinggi, kabar baik untuk mereka. Aku juga setuju kok kalo dua
matra lainnya ikut menyusul bikin pameran seperti ini atau pameran ini rutin dilakukan setiap
tahun. Hehehe. Saran aku untuk panitia pelaksana, tolong tempat sampah di arena pameran diperbanyak dan buka booth foto sama tentara ganteng karena tenntara-tentara yang jaga pameran laku diajak foto bareng. Hahaha.
Dirgahayu Tentara Nasional Indonesia! Jayalah di darat, laut, dan udara!
Ini adalah mug hadiah dari Armed. Terima kasih :")
Ini adalah gapura yang menyambut kedatangan sebelum masuk ke arena
Salah satu gambar yang ada di gapura
Ini foto aku sama salah seorang Kowad. Di foto ini aku memakai masker yang bisa digunakan untuk menyaring udara. Maskernya dipajang di stand Direktorat Penelitian dan Pengembangan TNI AD.
Salah satu seragam yang dipakai saat misi perdamaian
Mobil kenegaraan yang pernah dipakai oleh Presiden RI yang pertama
Salah satu pajangan yang ada di Armed
Pameran Alutsista, Monas 2012
Ini cerita dari dua minggu yang lalu, tepatnya hari Sabtu tanggal 7 Oktober 2012
kemarin aku pergi ke pameran alutsista TNI AD di Monas. Pameran ini diadakan
untuk memperingati ulang tahun TNI ke 67. Yah namanya juga alutsista, alat
utama sistem pertahanan Negara, yang dipamerin jelaslah alat-alat perang yang
biasa digunakan. Aku datang ke pameran ini sendirian dan
awalnya sempat khawatir apakah aku akan bisa bertahan di pameran ini atau gak
karena yang dipajang alat-alat yang aku ga ngerti sama sekali. Dengan modal
nekad dan sotoy berangkatlah aku ke monas (sebenernya sekalian jalan menuju
kantor mama juga sih).
Pertama dateng ke sana aku
celingukan sendiri sempet bingung sama arena pamerannya, tapi untung ada denah
lokasi yang membantu aku memahami kondisi medan *tseilah. Tempat pertama yang
aku datangi adalah bagian indoor. Di bagian ini isinya perusahaan-perusahaan
yang bermitra sama TNI, ada sritex, pindad, dan perusahaan lainnya yang aku ga hafal
namanya. Di bagian ini juga ada stand akmil, penelitian dan pengembangan AD,
sama dinas perhubungan AD.
Di stand akmil isinya ya all
about akmil, mulai dari seragamnya bahkan sampai tarunanya juga dibawa untuk
jaga stand dan banyak loh yang foto sama doi. Hahaha. Trus di dinas litbang AD
aku sempet bertanya tentang alat-alat yang sudah mereka berhasil kembangkan,
beberapa alat yang berhasil aku ingat ada alat pendeteksi air, alat pendeteksi
suhu luar ruangan, rompi untuk latihan menembak yang sudah terkomputerisasi,
dan masker penyaring udara. Aku sempet nyobain memakai masker penyaring ini dan
rasanya pengap! Jadi si masker ini berfungsi untuk menyaring udara yang
terkontaminasi, kayak di merapi kemarin itu, jadi ga perlu lagi tabung
oksigen. Ada lagi stand Dinas Perhubungan TNI AD. Di stand ini dijelasin semua tentang TNI AD, mulai dari lambang, pangkat sampai warna baret di seluruh kecabangan TNI
AD. Ada juga beberapa buku yang dibuat dan (sayangnya hanya) diedarkan khusus di lingkungan TNI
AD. Aku dapet
hadiah majalah Defender loh dari stand dinhub AD ini karena aku terus menerus
nanya apakah buku-bukunya itu bener-bener ga dijual. Hahaha.
Ah iya, aku juga sempet usul sama yang jaga stand biar TNI AD bikin akun twitter kayak saudaranya, TNI AU. Sampai tulisan ini diturunkan alhamdulillah twitter resmi TNI AD resmi rilis tanggal 19 Oktober kemarin :")
Puas melihat yang di dalam, aku
pun keluar. Nah sejujurnya aku lupa setelah stand ini stand apa, tapi seingetku
stand Direktorat Kesehatan TNI AD. Stand ini biasa aja, malah agak serem kalo
menurut aku karena ada TNI yang ceritanya terluka parah. Hhhiiiyy.
Selanjutnya stand Direktorat Peralatan. Isinya kebanyakan panser dan
sebagainya, aku ga begitu inget. Hahaha. Lalu ada stand Direktorat Perbekalan
dan Angkatan TNI AD. Nah di sini nih aku nemu makanan yang langka di bumi
Indonesia: TB dan kroni-kroninya. Setelah sekian lama akhirnya aku bisa makan
lagi yang namanya biskuit TB dan nasi ransum. Gretong! Alhamdulillah. Di stand
ini dipamerkan juga sleeping bag yang bisa terapung di atas air. Ada
Havercraaft juga dong dibawa ke monas. Totalitas. Aku sempet nanya sama tentara
yang menjaga kendaraan ini katanya dibawanya pakai container. Niat luar biasa!
Nah aku bener-bener lupa sama
stand yang berikutnya. Topografi kalo ga salah. Nah ini kan kerjaannya tentang
pemetaan, jadi alutsista yang kemarin dipamerkan ya ga jauh-jauh dari itu GPS,
solar cell, dan pesawat kecil (bikinnya kerjasama dengan ITB) untuk memfoto
permukaan. Ada juga stand Kostrad isinya pakaian mereka dan senjata-senjata
yang mereka gunakan. Ada dua baju yang menarik perhatian aku: baju hitam yang
sama seperti bajunya Gultor Kopassus dan baju sniper. Yang baju hitam itu
ternyata emang sama seperti yang di Gultor, biasa dipakai sama Raider dan Zeni.
Terus baju sniper ini lucu kayak benang-benang yang terjuntai belum terjahit,
oh kalau tahu Sully di Monster.Inc nah bajunya mirip sama bulunya si Sully itu, kriwel-kriwel ga keruan tapi enak dipegang #eh.
Di Direktorat Zeni banyak juga
yang menarik perhatian aku misalnya mesin untuk pembersih air yang ternyata
airnya bisa diminum beneran, ada juga mesin pencacah enceng gondok, mesin
pencacah sampah, dan mesin penjinak bom. Kayaknya Jihandak emang masuk Zeni
(dan aku baru tahu itu). Terus aku kira Zeni kerjaannya cuma konstruksi aja,
jadi bikin bangunan terus tapi ternyata enggak karena ada juga bagian destruksi.
Nah,
ini stand yang paling menarik untuk aku: stand Kopassus. Hihihi. Aku kan emang
udah baca buku “Kopassus untuk Indonesia” tapi baru bener-bener mendalami
*tseilah pas pameran ini. Perkenalan alat-alat mereka kemarin betul-betul
membuka mata aku tentang pembagian dalam Kopassus. Jadi di depan stand mereka
ada sekitar enam ranpur (kendaraan tempur) yang dipamerkan. Belakangan aku baru
tahu kalau itu semua yang memakai adalah Satgultor (Satuan Penanggulangan
Terror) Kopassus. Nah untuk kecabangan yang lainnya (free fall, daki serbu, dan
penyelam) alat-alatnya dipamerkan di dalam. Ada alat yang bikin aku mupeng,
alatnya penyelam. Jadi penyelam di Kopassus ga perlu tuh bawa tabung seperti
diver kebanyakan, mereka ada alat sendiri bentuknya agak kotak yang diletakkan
di dada yang berfungsi untuk mengubah karbondioksida menjadi oksigen. Cool
berat! Ga perlu tabung oksigen bukan berarti mereka ga punya sama sekali,
Kopassus masih memakai juga kok tabung oksigen tapi tergantung situasinya. Si
alat yang diletakkan di dada ini punya kelebihan dengan tidak mengeluarkan
gelembung jadi guna banget untuk operasi yang butuh penyamaran. Wetsuit yang mereka
sih pakai wetsuit biasa, tapi alat pengukur kedalaman, kompas, dsbnya yang punya
Kopassus wowww berat. Mau doong diving sama orang Kopassus. Dua kecabangan
(gultor dan penyelam) itu sih yang bikin aku pingin bilang wow sambil koprol.
Hahaha. Ada lagi yang mau aku acungin jempol dari stand Kopassus: tertib dan
bersih. Tertib karena orang Kopassusnya mengatur areanya sendiri dengan
menggunakan pengeras suara dan menyediakan tempat sampah di lingkungan stand mereka. Fyi, seliat aku cuma di stand kopassus ini yang ada tempat sampahnya. Emang
deh ga heran kalo namanya pasukan khusus.
Emm.. Perjalanan aku berakhir di sini karena udah ditungguin mama di kantornya (Aku ditelfonin berkali-kali!). Ga terasa banget aku menghabiskan waktu sekitar 4 jam di monas dan belum sempet ke semua bagian. Hahaha. Makanya aku berebcana ke monas lagi hari Minggu, pas hari terakhir pameran. Hihihi.
Senin, 03 September 2012
Where have you been, Nurul?
Allah itu Tuhan Yang Maha Esa dalam agama Islam, tapi seberapa dekat aku dengan Allah? Aku mencoba refleksi diri dari perjalananku sejak mengenal Islam sampai saat ini
Aku sudah beragama Islam sejak lahir. Kedua orang tuaku beragama Islam, ya secara otomatis agama ku pun Islam.Sejak kapan aku mulai mengenal agama ini? Mungkin aku kenal sejak sebelum usia TK tapi aku lebih bisa mengingatnya kalau aku mengenal Islam sejak TK karena aku masuk TK Islam. Sejak usia TK aku sudah diminta berhafal doa-doa sehari-hari dan juga belajar tentang para Nabi. Aku juga belajar mengenai lagu-lagu Islami dan belajar membaca huruf Al-Qur'an. Aku baru sadar saat dewasa, ternyata aku mampu membaca tulisan arab terlebih dahulu daripada membaca tulisan huruf latin karena sejak TK aku sudah diikutkan pengajian di dekat rumah.
Jenjang pendidikan berikutnya aku masuk ke SD Islam. Di bangku SD ini aku mulai mengenal Allah dan para nabi-Nya. Aku belajar tentang kewajiban agama, rukun iman, rukun islam, dan mulai hafalan surat-surat pendek di Al-Qur'an. Aku juga sempet mau pakai jilbab dari SD tapi masih ragu. Di masa SD aku juga dilatih jadi qari'ah tapi gagal. Hahaha karena aku dulu ngerasa ga penting baca Qur'an dilaguin segala, baca sesuai tajwid sudah cukup. Aku juga hafalan bacaan shalat pas SD, hafalan doa-doa setelah sholat, belajar lebih banyak tentang sholat-sholat sunah, dan penulisan Allah. Aku sempet misuh misuh sendiri pas kecil karena buku catatan ku jadi jelek karena penulisan Allah dan kata ganti-Nya.
Jadi dulu pernah didikte mengenai suatu bahan ajaran Agama Islam. Didikte artinya guru membacakan dan murid menuliskan, bukan soal dikte hanya bacaan yang dibaca oleh guru dan kita sebagai muridnya menyalin apa yang dibacakan. Kebetulan di bacaan yang dibacakan oleh guru itu banyak penulisan Allah dan kata ganti untuk Allah (-Nya, Ia, Engkau, dsb). Aku yang saat itu masih kecil tidak menuliskan kata ganti untuk Allah sesuai EYD, jadi aku tulis "-Nya" ya seperti biasa "-nya", "Ia" aku tulis jadi "ia" (see the differences?) Aku sebel banget sama guruku yang berkali-kali menekankan "N nya huruf besar ya anak-anak" atau "I nya huruf besar ya anak-anak" sebab di kalimat yang aku tulis, kata ganti untuk Allah aku samakan seperti kata ganti untuk yang lainnya dan aku gak ngerti makna huruf kapital itu untuk apa. Walhasil kalo guruku ngingetin ya ku coret hurufnya dna ku ganti yang bener, tapi kalo ga ngingetin ya ku diemin aja soalnya kalo banyak yang dicoret catatanku jadi gak rapih. Sedangkal itu ya aku waktu SD.
Kemudian aku menginjak SMP. TK dan SD aku di sekolah Islam, nah SMP aku bersekolah di sekolah negeri. Di sini lebih plural, yang tadinya ga punya temen agama hindu di SMP ini ketemu, pas SD kondisinya kondusif untuk sholat pas di SMP lebih bebas, di SD hampir setiap hari ada pengajian di kelas di SMP gak ada, dan tanpa aku sadari aku mulai kehilangan keislamanku. Pas SMP awal aku jarang sholat wajib karena aku lebih mementingkan main sama teman daripada sholat. Kelas 1 SMP aku masuk siang jadi waktu itu aku berdalih kalau waktunya gak cocok antara sekolah dan sholat. Sempet beberapa bulan aku jaranag sholat tapi terus ada sebuah kejadian (aku lupa) yang membuat aku kembali mengerjakan sholat fardhu dan alhamdulillah gak putus sampai sekarang.
Pas SMP awal aku juga sempet kelabakan saat diminta membaca Al-Qur'an. Seriously, kelabakan seakan-akan aku lupa semua sama huruf hijaiyah dan gak tau apa itu huruf alif, ba, dsb. Aku bingung, istighfar, dan aku mulai membaca surat pendek yang sudah aku hafal dan alhamdulillah ingatanku mengenai huruf hijaiyah kembali. Masa SMP ini bisa ku bilang masa terjauh aku dengan agama ku dan Allah, aku bandel. Ga sebandel sampai ngerokok, minum, atau apa tapi kalau dibandingkan dengan sekarang bisa ku bilang pas SMP aku bandel.
Masuk ke SMA, terima kasih kepada Allah yang walaupun aku bandel dan males belajar aku bisa masuk ke salah satu SMA ternama di Jakarta dan akhirnya aku bersyukur pernah bersekolah di SMA tersebut. Di SMA aku bertemu teman-teman baru, kali ini lebih heterogen mulai dari kondisi sosial ekonomi, appearance, sampai aqidah. Jadwal di SMA ku ini masuk pagi pulang sore, sekitar jam 15. Secara otomatis, sholat ku pun lebih terjaga karena jadwalnya enak. Selain itu, guru di sekolah ini cukup cerewet tentang agama, kalo hari Jumat siang aja ada sidak: laki-laki ke masjid, perempuan ke ruang audio visual. No excuse. Di SMA ini aku mulai sering sholat dhuha, puasa senin-kamis, dan diskusi sama teman-teman yang lebih faham agama. Aku mulai melibatkan Allah di bangku SMA ini, mulai dari cerita tentang gebetan sampai berdoa untuk kelulusan SPMB. Kalau yang SPMB ini gak lepas dari bimbingan belajar Nurul Fikri juga sih yang setiap mulai belajar dengan berdoa dan banyak tempelan doa di tembok kelas.
Untuk lolos SPMB, aku usaha, mama usaha, bapak usaha, dan melibatkan Allah. Aku belajar dan sholat, mama dan bapak ikut bantu dengan doa dan sedekah serta minta bantuan doa dari orang lain. Alhamdulillah aku lulus SPMB.
Di bangku kuliah, awal kuliah aku mulai merasakan hawa "bebas" lagi nih. Awal kuliah sempet agak bandel karena kebawa sama temen-temen SMA dan kebiasaan kita waktu itu. Namun kemudian hal itu gak berlangsung lama. Aku ketemu sama temen-temen yang luar biasa di kampus kuning ini. Luar biasa macem-macemnya dan aku mulai menyadari aku berada di "lingkaran" yang mana.Teman main dan saudara aku mayoritas berjilbab dan aku terus teringat tentang ayat untuk mengulurkan jilbab (karena bapak sering ngomong juga sih). Entah mengapa juga aku tiba-tiba merasa malu. Malu dengan rambut, leher, tangan, dan kaki yang tampak. Aku ngobrol sama temen-temenku yang berjilbab tentang awalnya mereka berjilabab dan rasanya berjilbab, setelah mendapat jawaban aku mantap berjilbab di liburan semester empat menuju lima. Aku langsung minta mama untuk temenin ke toko baju esok harinya karena aku mau pakai jilbab. Mama setuju.
Apa aku langsung menemukan Allah setelah itu?
Enggak. Jaman aku baru pakai jilbab dulu, masih agak bandel juga. Sholat sih alhamdulillah masih jalan tapi ya ngajinya jarang. Sholat dhuha dan tahajjud? Hmm.. Bisa dibilang hampir gak pernah, kalau gak bisa tidur atau ada perlunya aja aku baru sholat tahajjud. Aku pernah mengingat kebesaran Allah saat belajar faal. Ilmu itu yang membuat aku sadar bahwa manusia ini ada yang menciptakan serta organ di tubuh manusia tidak diciptakan dengan sia-sia dan saat belajar di kelas aku cuma bisa bilang "Allah itu memang luar biasa". Namun ya itu aja, cukup sekedar kagum sama Allah. Dalam hal pinta meminta aku minta ya cuma minta aja, doa ya doa aja, curhatnya masih lari ke diary, twitter, atau facebook. Aku baru sadar, sampai mau lulus kuliah pun aku masih minim mintanya sama Allah, minta sih tapi gak maksimal. Astaghfirullah.
Baru sekarang-sekarang ini sekitar hampir setahun yang lalu aku mulai sering sholat dhuha, aku mulai merasakan kehadiran Allah. Dan aku juga merasa bersyukur atas apa yang telah Allah berikan kepadaku. Aku juga sekarang mengurangi curhat di twitter atau facebook, ga seperti setahun atau dua tahun yang lalu. Aku ngerasa masih perlu memperdalam lagi ilmu agama dan terus mendekatkan diri pada-Nya. Caranya? Yaa banyak-banyak mengingat Allah, banyak doa, banyak melakukan hal-hal yang Allah sukai, dan yakin. Yakin? Iyalah. Yakin itu iman. Iman kepada Allah kalau menurut aku bukan cuma percaya kalau Allah itu ada melainkan juga kalau Allah itu tempat satu-satunya untuk mengadu, meminta dan mengharap. Hahaha jadi inget ustad Yusuf Mansur yang selalu mengingatkan untuk melibatkan Allah.
Kalau udah mengadu dan meminta sama Allah terus ga dikasih gimana? Ya sabar. Kayak aku ini, mungkin emang belum dikasih atau permintaan yang akan dikabulkan Allah itu butuh pengorbanan yang besar: kesabaran yang luar biasa *talk to myself
Aku, sebagai pemeluk Islam dari lahir baru sering melibatkan Allah sekarang, di saat usia sudah berkepala "2". Malu. Wajar aja sih menurut aku kalau Allah ngasih aku teguran sekarang, asal jangan lama-lama ya Allah tegurannya, ga kuat euy. Dan semoga aku selalu mengingat-Mu dan melibatkan-Mu sampai nanti, selamanya. Aamiin.
Ps: Aku baru faham kenapa penulisan kata ganti untuk Allah (Tuhan) dibedakan karena memang makhluk dan penciptanya berbeda.
Selasa, 28 Agustus 2012
Hatur nuhun Bandung!
Tanggal 10 sampai 12 Agustus 2012 aku dan Berwi melakukan perjalanan ke Bandung.
Aku dan Berwi berangkat hari Jumat tanggal 10 Agustus 2012 dengan menggunakan travel Baraya yang berangkat dari Tanjung Barat jam 10 pagi. Harganya naik (mungkin karena weekend dan menjelang lebaran) jadi 68 ribu padahal biasanya gak segitu. Perjalanan sekitar 2 jam sampai di Bandung sekitar jam 13 terus kita langsung melakukan perjalanan berikutnya: menuju Pasir Impun! Di tempat itulah aku dan Berwi akan menumpang nginap di rumah teman tercinta, Yasinta D**i.
Sampailah kita di Pasir Impun. Bener-bener gak ada bayangan Pasir Impun itu daerah macam apa sampai akhirnya Yashi datang menjemput dan terlihatlah daerah itu kayak apa. Jadi jalanannya menanjak dan sudah ramai, gak ada angkutan umum yang ada cuma ojek dengan helm pink, dan jalanannya agak rusak. Namun di samping itu semua jalanannya memberikan pemandangan yang bagus yaitu kota Bandung dari atas, jadi kalau lewat jalan itu malam hari akan banyak lampu-lampu kecil yang dapat terlihat dari ketinggian. Baguus.
Sampai di rumah Yashi, kami beres-beres bentar, leyeh-leyeh sambil nunggu waktu Ashar. Setelah itu, kita pergi ngabuburit dengan menggunakan dua motor. Kita belum tau akan buka puasa di mana, tapi tujuan pertamanya adalah: pusat pendidikan infanteri. Pusdikif Bandung. Beberapa bulan yang lalu keluarganya Yashi sempat tinggal di situ karena Bapaknya kerja di Pusdikif terus dia nunjukkin deh rumahnya yang lama. Aku dikasih hadiah tambahan sama Yashi: diajak jalan-jalan keliling komplek perumahan tentara. Sounds silly but that was cool. Dan aku seneng banget. Hahaha.
Nah dari situ baru deh kita cari tempat makan untuk buka puasa. Awalnya, pilihan jatuh pada "Bebek Slamet" tapi aku dan Berwi menolak karena resto itu ada di Jakarta. Belakangan aku baru tahu Yashi milih Bebek Slamet yang deket Pusdikif karena di situ sering ada akustikannya gitu. Akhirnya kita makan di Bancakan. Rumah makan yang ramai dan cukup murah menurut aku.
Rumah makan Bancakan ini rrraaammmmeeeee banget. Ngantri makannya sampe 3 meter lebih. Mungkin karena modelnya rumah makan prasmanan jadi semuanya yang mau ambil jadi harus antri dulu. Rumah makan ini lucu deh, modelnya kuno gitu dan harganya relatif murah. Rasanya seru kalo nraktir temen2 di sini *ga mau rugi. Hahaha. Dari rumah makan Bancakan kita meluncur ke Jln Braga, took some pictures. Dari Braga kita pulang, sholat, dan istirahat.
Hari berikutnya kita keluar dari siang, abis zuhur. Meluncur ke Cimahi untuk nengokin yang lagi pendidikan. Ternyata Bandung-Cimahi-Bandung cukup memakan waktu juga. Mana akhir pekan, jalanan ikut macet. Kita sampe Cimahi sekitar jam 2 siang terus pas sampai Bandung lagi udah jam 5 sore, padahal cuma sebentar aja di Cimahi karena jalanan macet dan kita juga ngejar buka puasa di SMAnya Yashi di Buah Batu. Sampailah di SMAnya Yashi dan masih kosong krik krik. Ga sekosong itu sih tapi cukup membuat Yashi males buka puasa di situ. Hahaha.
Setelah diajak jalan-jalan di deket SMAnya Yashi (naik motor, bukan jalan kaki) pilihan buka puasa jatuh padaaa *drum rolls* Gampoeng Aceh! Rumah makan yang ada mushollanya, itu yang jadi pertimbangan utama kita. Tapi gak juga sih, overall rumah makannya menarik, dari interior, ragam makanannya, rasanya, sampai free takjilnya. Hihihi. Yang paling aku suka di sepanjang jalannya itu ada banyak makanan, salah satunya pisang ijo sebrang gampoeng aceh yang rasanya enak dan harganya 7ribu rupiah. Worth it lah.
Abis makan di Gampoeng Aceh kita nyobain martabak San Fransisco yang letaknya masih di deket Gampoeng Aceh. Pas liat price list-nya "Duh harganya kok begini, tapi udah kadung penasaran sama rasanya" tapi akhirnya tetep beli juga martabak telor yang harganya medium. Daripada gak beli terus nyesel seumur hidupkan?
Makan sudah, martabak juga sudah di tangan kita lalu meluncur ke SMAnya Yashi. Sekolahnya guede banget. Di situ gw sama Berwi gosipan mojok berdua sambil nungguin Neng Yashi reunian sama temen-temennya. Di SMA itu juga pertama kali aku makan martabak telor San Fransisco dan langsung jatuh cinta pada gigitan pertama. Aaaahh enak banget rasanya.
Agenda malam ini selesai, ditutup dengan makan martabak bareng di kamar Yashi. Besoknya kita balik ke Jakarta, dijemput di rumah Yashi sama temen lainnya yang ada di Bandung juga. Setelah ngobrol sana sini sama orang tua Yashi kita pun pamit, agak menyedihkan *lebay. Bapak-Ibunya Yashi asyik banget, bapaknya cerita kalau beliau suka lari lintas alam dari satu gunung ke gunung lain dan mendengar ceritanya tentang itu menarik banget. Bapaknya juga cerita tentang tempat dinasnya dulu. Menyenangkaan. Oh, kalau mamanya Yashi jago bikin pepes ikan, aku suka banget sama pepes buatannya. Hihihi. Makasih yaa om dan tante :')
Nah, jadi temen kita yang jemput ini namanya Ilham. Ini pertemuan kedua aku sama dia, karena awalnya emang temennya Berwi. Jadi Mas Ilham ini harus menjemput pesawat yang mendarat di Bandara Husein jam 11 untuk ngambil kiriman sedangkan kita baru cuss dari rumah Yashi di Pasir Impun hampir jam setengah 11. Walhasil si Mas Ilham ngebut bawa mobilnya, dari ngembat jalur lawan sampai ngebut di jalanan berlubang. But that was okay mas, aku sama Berwi faham kok *peace. Kekejar tuh, jam 11 kurang sampai di bandara. Yeay!
Kiriman terselamatkan dan semua senang. Terus kita dianter beli oleh-oleh di prima rasa dan brownies amanda. Eeh dapet bingkisan juga dari Mas Ilham: maicih empat kantong! Assiikk. Buah tangan sudah didapat dan sekarang waktunya pulang. Kita diantar ke Leuwi Panjang untuk naik bis Primajasa jurusan Lebak Bulus. Thank you for your kindness mas :)
Bis Primajasa harga tiketnya juga naik loh, jadi 60ribu. Di bis aku sama Berwi kebanyakan tidur soalnya mau gosipan juga gimana, wong lagi puasa. Kita berpisah deh di Pasar Rebo. What a nice short vacation. Makasih ya Yashi dan Berwi dan Hatur nuhun Bandung! :)
Aku dan Berwi berangkat hari Jumat tanggal 10 Agustus 2012 dengan menggunakan travel Baraya yang berangkat dari Tanjung Barat jam 10 pagi. Harganya naik (mungkin karena weekend dan menjelang lebaran) jadi 68 ribu padahal biasanya gak segitu. Perjalanan sekitar 2 jam sampai di Bandung sekitar jam 13 terus kita langsung melakukan perjalanan berikutnya: menuju Pasir Impun! Di tempat itulah aku dan Berwi akan menumpang nginap di rumah teman tercinta, Yasinta D**i.
Sampailah kita di Pasir Impun. Bener-bener gak ada bayangan Pasir Impun itu daerah macam apa sampai akhirnya Yashi datang menjemput dan terlihatlah daerah itu kayak apa. Jadi jalanannya menanjak dan sudah ramai, gak ada angkutan umum yang ada cuma ojek dengan helm pink, dan jalanannya agak rusak. Namun di samping itu semua jalanannya memberikan pemandangan yang bagus yaitu kota Bandung dari atas, jadi kalau lewat jalan itu malam hari akan banyak lampu-lampu kecil yang dapat terlihat dari ketinggian. Baguus.
Sampai di rumah Yashi, kami beres-beres bentar, leyeh-leyeh sambil nunggu waktu Ashar. Setelah itu, kita pergi ngabuburit dengan menggunakan dua motor. Kita belum tau akan buka puasa di mana, tapi tujuan pertamanya adalah: pusat pendidikan infanteri. Pusdikif Bandung. Beberapa bulan yang lalu keluarganya Yashi sempat tinggal di situ karena Bapaknya kerja di Pusdikif terus dia nunjukkin deh rumahnya yang lama. Aku dikasih hadiah tambahan sama Yashi: diajak jalan-jalan keliling komplek perumahan tentara. Sounds silly but that was cool. Dan aku seneng banget. Hahaha.
Nah dari situ baru deh kita cari tempat makan untuk buka puasa. Awalnya, pilihan jatuh pada "Bebek Slamet" tapi aku dan Berwi menolak karena resto itu ada di Jakarta. Belakangan aku baru tahu Yashi milih Bebek Slamet yang deket Pusdikif karena di situ sering ada akustikannya gitu. Akhirnya kita makan di Bancakan. Rumah makan yang ramai dan cukup murah menurut aku.
Rumah makan Bancakan ini rrraaammmmeeeee banget. Ngantri makannya sampe 3 meter lebih. Mungkin karena modelnya rumah makan prasmanan jadi semuanya yang mau ambil jadi harus antri dulu. Rumah makan ini lucu deh, modelnya kuno gitu dan harganya relatif murah. Rasanya seru kalo nraktir temen2 di sini *ga mau rugi. Hahaha. Dari rumah makan Bancakan kita meluncur ke Jln Braga, took some pictures. Dari Braga kita pulang, sholat, dan istirahat.
Hari berikutnya kita keluar dari siang, abis zuhur. Meluncur ke Cimahi untuk nengokin yang lagi pendidikan. Ternyata Bandung-Cimahi-Bandung cukup memakan waktu juga. Mana akhir pekan, jalanan ikut macet. Kita sampe Cimahi sekitar jam 2 siang terus pas sampai Bandung lagi udah jam 5 sore, padahal cuma sebentar aja di Cimahi karena jalanan macet dan kita juga ngejar buka puasa di SMAnya Yashi di Buah Batu. Sampailah di SMAnya Yashi dan masih kosong krik krik. Ga sekosong itu sih tapi cukup membuat Yashi males buka puasa di situ. Hahaha.
Setelah diajak jalan-jalan di deket SMAnya Yashi (naik motor, bukan jalan kaki) pilihan buka puasa jatuh padaaa *drum rolls* Gampoeng Aceh! Rumah makan yang ada mushollanya, itu yang jadi pertimbangan utama kita. Tapi gak juga sih, overall rumah makannya menarik, dari interior, ragam makanannya, rasanya, sampai free takjilnya. Hihihi. Yang paling aku suka di sepanjang jalannya itu ada banyak makanan, salah satunya pisang ijo sebrang gampoeng aceh yang rasanya enak dan harganya 7ribu rupiah. Worth it lah.
Abis makan di Gampoeng Aceh kita nyobain martabak San Fransisco yang letaknya masih di deket Gampoeng Aceh. Pas liat price list-nya "Duh harganya kok begini, tapi udah kadung penasaran sama rasanya" tapi akhirnya tetep beli juga martabak telor yang harganya medium. Daripada gak beli terus nyesel seumur hidupkan?
Makan sudah, martabak juga sudah di tangan kita lalu meluncur ke SMAnya Yashi. Sekolahnya guede banget. Di situ gw sama Berwi gosipan mojok berdua sambil nungguin Neng Yashi reunian sama temen-temennya. Di SMA itu juga pertama kali aku makan martabak telor San Fransisco dan langsung jatuh cinta pada gigitan pertama. Aaaahh enak banget rasanya.
Agenda malam ini selesai, ditutup dengan makan martabak bareng di kamar Yashi. Besoknya kita balik ke Jakarta, dijemput di rumah Yashi sama temen lainnya yang ada di Bandung juga. Setelah ngobrol sana sini sama orang tua Yashi kita pun pamit, agak menyedihkan *lebay. Bapak-Ibunya Yashi asyik banget, bapaknya cerita kalau beliau suka lari lintas alam dari satu gunung ke gunung lain dan mendengar ceritanya tentang itu menarik banget. Bapaknya juga cerita tentang tempat dinasnya dulu. Menyenangkaan. Oh, kalau mamanya Yashi jago bikin pepes ikan, aku suka banget sama pepes buatannya. Hihihi. Makasih yaa om dan tante :')
Nah, jadi temen kita yang jemput ini namanya Ilham. Ini pertemuan kedua aku sama dia, karena awalnya emang temennya Berwi. Jadi Mas Ilham ini harus menjemput pesawat yang mendarat di Bandara Husein jam 11 untuk ngambil kiriman sedangkan kita baru cuss dari rumah Yashi di Pasir Impun hampir jam setengah 11. Walhasil si Mas Ilham ngebut bawa mobilnya, dari ngembat jalur lawan sampai ngebut di jalanan berlubang. But that was okay mas, aku sama Berwi faham kok *peace. Kekejar tuh, jam 11 kurang sampai di bandara. Yeay!
Kiriman terselamatkan dan semua senang. Terus kita dianter beli oleh-oleh di prima rasa dan brownies amanda. Eeh dapet bingkisan juga dari Mas Ilham: maicih empat kantong! Assiikk. Buah tangan sudah didapat dan sekarang waktunya pulang. Kita diantar ke Leuwi Panjang untuk naik bis Primajasa jurusan Lebak Bulus. Thank you for your kindness mas :)
Bis Primajasa harga tiketnya juga naik loh, jadi 60ribu. Di bis aku sama Berwi kebanyakan tidur soalnya mau gosipan juga gimana, wong lagi puasa. Kita berpisah deh di Pasar Rebo. What a nice short vacation. Makasih ya Yashi dan Berwi dan Hatur nuhun Bandung! :)
Yashi, Berwi, dan aku di Gampoeng Aceh
Label:
jalan-jalan,
liburan,
militer
Selasa, 24 Juli 2012
Kilauan Kiluan
Waaahh.. Sudah lama ya gak nulis di blog. Maklum, seringkali ada aja kegiatan yang bisa menghambat aku untuk menulis dan membagi cerita. Tapi pagi ini, dengan duduk di salah satu restoran donat di Cilandak Town Square aku mau membagi cerita ku di awal bulan Juni ini: Kiluan!
Yup mungkin ada beberapa yang udah pernah dengar tentang Kiluan, betapa indah dan sepinya pantai itu. Kiluan itu sebuah pulau yang terletak di Lampung bagian selatan. Konon katanya Kiluan itu memiliki arti 'harapan' karena ada beberapa tetua (atau raja ya?) Lampung yang berharap untuk dimakamkan di pulau itu makanya disebut Pulau Kiluan. Oh dan Kiluan itu sudah dijadikan tempat wisata dari awal tahun 1990-an tapi hanya terbatas untuk wisatawan mancanegara nah sejak krisis moneter 1998 pengunjung Kiluan ikut berkurang nah penduduk setempat mulai mencari cara untuk menghidupkannya kembali dengan promosi ke wisatawan lokal. Pulau ini sudah mulai dibuka ke wisatawan lokal kira-kira sejak tahun 2002 tapi aku baru tahu ada pulau (bahkan dulu aku ngiranya pantai!) ini tahun 2011. Hahahaa betapa basinya aku.
Sekarang aku mau cerita tentang perjalanan aku ke pulau itu :)
Aku pergi sama temen-temen kantor, berangkat hari Jumat malam (ba'da Isya) dari kantor yang letaknya di kawasan Sudirman menuju ke pelabuhan Merak. Kami melewati tol Jakarta-Tangerang beradu dengan truk-truk yang berukuran jumbo. Jalan sehabis Isya dari Sudirman, kami naik kapal tengah malam. Yaa lama perjalanannya sekitar 3 jam lah yaa dari Sudirman ke Merak.
Di kapal, kami udah ga dapat ruangan yang ber-AC akhirnya duduk di kelas ekonomi. Ini pertama kali aku naik kapal feri yang menyeberang ke Lampung. Jadi yang aku tulis yaa yang setahu aku aja. Di kelas ekonomi ini ramai sampai ada beberapa orang yang ga dapet tempat duduk akhirnya menepi ke pinggiran kapal (dek ya namanya?). Malam, dingin, ngantuk, paling enak makan pop mie nah temen ku beli satu pop mie harganya 12ribu aja dong. Oke itu intermezo. Di ruangan ini, namanya juga ekonomi ya banyak orang ngerokok jadi bau asep :(
Kerjaan aku di kapal tiduurr aja, ada yang jualan juga tetep aja tidur. Daan menjelang subuh rombongan tiba di Lampung (Yeay!) Kami melanjutkan perjalanan ke Pulau Kiluan dan berhenti sesaat hanya untuk sholat subuh, makan pagi, dan menjemput guide. Perjalanan dari Bakauheni ke Pulau Kiluan jauh juga ternyata karena rombongan baru sampai di dermaga untuk nyebrang ke Pulau Kiluan tuh tengah hari. Berapa lama ya? Mmm.. Sekitar 6-7 jam lah yaa dari Bakauheni.
Tapi yaa di jalan menuju ke dermaga itu serru banget. Mataku dimanjakan (tseilah) dengan pemandangan indah gunung-laut-perkampungan dan ada markas marinir (eh ini oot). Terus kontur jalannya juga seru banget bikin yang nyupir dan penumpang ga bisa tidur karena ada jalan yang agak rusak.
Nah itu salah satu jalan yang harus dilewati untuk menuju Kiluan. Ga semua jalan menuju dermaga Kiluan bentuknya menyeramkan seperti ini, ada jalan yang halus, gronjel-gronjel, dan jalan perkampungan. Pemandangannya pun luar biasa karena ganti-ganti kadang hutan, kadang kampung, dan yang paling menakjubkan ada satu jalan yang (karena ini jalannya naik-turun yaa) pas kita posisi nanjak di depan mobil itu ada pemandangan laut jadi seakan-akan lautnya di atas mobil. Subhanallah.
Oke, skip tentang perjalanannya. Akhirnya sampailah di dermaga untuk menyebrang ke Pulau Kiluan. Fyi, saat sampai di dermaga itu panas bangget yaa, temen-temenku sampai langsung pakai sunblock. Hahaha. Dari situ kami naik kapal (aku sih dengernya namanya Ting-Ting dan yang keinget sampe sekarang namanya ya Ting-Ting itu :P) yang kayak sampan terus ada empat bilah bambu di sisi kiri kanannya. Satu perahu bisa muat sekitar 3-6 orang plus barang bawaan. Lagi-lagi aku menyebut nama Allah saat naik perahu ini. Bagus banggeett lautnya. Kiluan itu letaknya di teluk jadi lautnya masih tergolong dangkal dan airnya jernih banget :')
Voila! Sampailah kami di penginapan. Penginapan sederhana, bangunan bertingkat berdinding kayu dan terdiri dari enam kamar. Kami yang udah antusias bangget langsung nge-tag kamar, beberes bentar dan langsung kecipak kecipuk di air laut pake alat snorkel sewaan dan berenang di tepian laut sambil ngeliat bawah laut, tanpa guide karena guidenya masih dipake sama kelompok lain. Hati-hati looh ga semua pantai di Kiluan ini bebas batu, ada beberapa lokasi yang karangnya nyakitin dan tajam-tajam.
Akhirnya beberapa teman baru snorkeling sore hari. Aku memilih gak ikut karena mau foto-foto cantik sore hari di tepi pantai karena besok sore udah gak di Kiluan lagi. Sore datang dan aku dan beberapa wanita cantik lainnya foto-foto di tepi pantai. Pasirnya putiiihh dan bersiiihh. Malamnya, kami makan bersama dengan bakar-bakaran ikan dan beberapa makanan lainnya yang sudah disiapkan oleh pemiliki penginapan.
Besok paginya aku bangun pagi dengan semangat karena akan pergi melihat lumba-lumba. Aku kira awalnya akan ada spot tertentu untuk melihat lumba-lumba. Ternyata tidak sodara-sodara. Jadi aku harus naik kapal kayu itu dulu satu perahu empat orang (udah termasuk tukang perahunya) terus dibawa muter-muter ke laut hampir ke samudra Hindia ga ada spot khusus jadi kayak berburu lumba-lumba aja sedapetnya dimana. Cukup lama juga totalnya 3 jam kali ya pulang-pergi. Itu juga ngeliat lumba-lumbanya tergantung keberuntungan. Pas kapal aku (mungkin karena isinya orang-orang baik) jadi sering ngeliat lumba-lumba ada yang berenang biasa, loncat, sampe salto. Nah tapi ada temen yang lainnya cuma ngeliat dua lumba-lumba, bayangkan segitu jauhnya ke tengah laut cuma ngelihat dua itu pun sirip atasnya aja. Yaa nasip lah yaa.
Namun, sekali lagi aku merasa kebesaran Allah saat naik kapal melintasi lautan yang super duper luas itu, aku tiba-tiba ingat Surat Ar-Rahman ayat 24: "Dan Kepunyaan-Nyalah bahtera-bahtera yang tinggi layarnya di lautan laksana gunung-gunung" :")
Sehabis lihat lumba-lumba, gak sampe zuhur kami segera kembali ke Pulau Sumatera dan meninggalkan kenangan di Pulau Kiluan. See you again Kiluan <3
Yup mungkin ada beberapa yang udah pernah dengar tentang Kiluan, betapa indah dan sepinya pantai itu. Kiluan itu sebuah pulau yang terletak di Lampung bagian selatan. Konon katanya Kiluan itu memiliki arti 'harapan' karena ada beberapa tetua (atau raja ya?) Lampung yang berharap untuk dimakamkan di pulau itu makanya disebut Pulau Kiluan. Oh dan Kiluan itu sudah dijadikan tempat wisata dari awal tahun 1990-an tapi hanya terbatas untuk wisatawan mancanegara nah sejak krisis moneter 1998 pengunjung Kiluan ikut berkurang nah penduduk setempat mulai mencari cara untuk menghidupkannya kembali dengan promosi ke wisatawan lokal. Pulau ini sudah mulai dibuka ke wisatawan lokal kira-kira sejak tahun 2002 tapi aku baru tahu ada pulau (bahkan dulu aku ngiranya pantai!) ini tahun 2011. Hahahaa betapa basinya aku.
Sekarang aku mau cerita tentang perjalanan aku ke pulau itu :)
Aku pergi sama temen-temen kantor, berangkat hari Jumat malam (ba'da Isya) dari kantor yang letaknya di kawasan Sudirman menuju ke pelabuhan Merak. Kami melewati tol Jakarta-Tangerang beradu dengan truk-truk yang berukuran jumbo. Jalan sehabis Isya dari Sudirman, kami naik kapal tengah malam. Yaa lama perjalanannya sekitar 3 jam lah yaa dari Sudirman ke Merak.
Di kapal, kami udah ga dapat ruangan yang ber-AC akhirnya duduk di kelas ekonomi. Ini pertama kali aku naik kapal feri yang menyeberang ke Lampung. Jadi yang aku tulis yaa yang setahu aku aja. Di kelas ekonomi ini ramai sampai ada beberapa orang yang ga dapet tempat duduk akhirnya menepi ke pinggiran kapal (dek ya namanya?). Malam, dingin, ngantuk, paling enak makan pop mie nah temen ku beli satu pop mie harganya 12ribu aja dong. Oke itu intermezo. Di ruangan ini, namanya juga ekonomi ya banyak orang ngerokok jadi bau asep :(
Kerjaan aku di kapal tiduurr aja, ada yang jualan juga tetep aja tidur. Daan menjelang subuh rombongan tiba di Lampung (Yeay!) Kami melanjutkan perjalanan ke Pulau Kiluan dan berhenti sesaat hanya untuk sholat subuh, makan pagi, dan menjemput guide. Perjalanan dari Bakauheni ke Pulau Kiluan jauh juga ternyata karena rombongan baru sampai di dermaga untuk nyebrang ke Pulau Kiluan tuh tengah hari. Berapa lama ya? Mmm.. Sekitar 6-7 jam lah yaa dari Bakauheni.
Tapi yaa di jalan menuju ke dermaga itu serru banget. Mataku dimanjakan (tseilah) dengan pemandangan indah gunung-laut-perkampungan dan ada markas marinir (eh ini oot). Terus kontur jalannya juga seru banget bikin yang nyupir dan penumpang ga bisa tidur karena ada jalan yang agak rusak.
Nah itu salah satu jalan yang harus dilewati untuk menuju Kiluan. Ga semua jalan menuju dermaga Kiluan bentuknya menyeramkan seperti ini, ada jalan yang halus, gronjel-gronjel, dan jalan perkampungan. Pemandangannya pun luar biasa karena ganti-ganti kadang hutan, kadang kampung, dan yang paling menakjubkan ada satu jalan yang (karena ini jalannya naik-turun yaa) pas kita posisi nanjak di depan mobil itu ada pemandangan laut jadi seakan-akan lautnya di atas mobil. Subhanallah.
Voila! Sampailah kami di penginapan. Penginapan sederhana, bangunan bertingkat berdinding kayu dan terdiri dari enam kamar. Kami yang udah antusias bangget langsung nge-tag kamar, beberes bentar dan langsung kecipak kecipuk di air laut pake alat snorkel sewaan dan berenang di tepian laut sambil ngeliat bawah laut, tanpa guide karena guidenya masih dipake sama kelompok lain. Hati-hati looh ga semua pantai di Kiluan ini bebas batu, ada beberapa lokasi yang karangnya nyakitin dan tajam-tajam.
Akhirnya beberapa teman baru snorkeling sore hari. Aku memilih gak ikut karena mau foto-foto cantik sore hari di tepi pantai karena besok sore udah gak di Kiluan lagi. Sore datang dan aku dan beberapa wanita cantik lainnya foto-foto di tepi pantai. Pasirnya putiiihh dan bersiiihh. Malamnya, kami makan bersama dengan bakar-bakaran ikan dan beberapa makanan lainnya yang sudah disiapkan oleh pemiliki penginapan.
Besok paginya aku bangun pagi dengan semangat karena akan pergi melihat lumba-lumba. Aku kira awalnya akan ada spot tertentu untuk melihat lumba-lumba. Ternyata tidak sodara-sodara. Jadi aku harus naik kapal kayu itu dulu satu perahu empat orang (udah termasuk tukang perahunya) terus dibawa muter-muter ke laut hampir ke samudra Hindia ga ada spot khusus jadi kayak berburu lumba-lumba aja sedapetnya dimana. Cukup lama juga totalnya 3 jam kali ya pulang-pergi. Itu juga ngeliat lumba-lumbanya tergantung keberuntungan. Pas kapal aku (mungkin karena isinya orang-orang baik) jadi sering ngeliat lumba-lumba ada yang berenang biasa, loncat, sampe salto. Nah tapi ada temen yang lainnya cuma ngeliat dua lumba-lumba, bayangkan segitu jauhnya ke tengah laut cuma ngelihat dua itu pun sirip atasnya aja. Yaa nasip lah yaa.
Namun, sekali lagi aku merasa kebesaran Allah saat naik kapal melintasi lautan yang super duper luas itu, aku tiba-tiba ingat Surat Ar-Rahman ayat 24: "Dan Kepunyaan-Nyalah bahtera-bahtera yang tinggi layarnya di lautan laksana gunung-gunung" :")
Sehabis lihat lumba-lumba, gak sampe zuhur kami segera kembali ke Pulau Sumatera dan meninggalkan kenangan di Pulau Kiluan. See you again Kiluan <3
Selamat datang di Teluk Kiluan. Horeeee!!
Sore hari di Kiluan
Itu dia sirip lumba-lumbanya. Uuuuu~
These are my favorite girls :*
Label:
indonesia,
jalan-jalan,
liburan,
pantai
Kamis, 12 Juli 2012
Prasetya Perwira
Aku menulis ini bukan karena ada di Magelang.
Bukan juga karena punya pacar yang lagi ikut prasetya perwira.
Atau karena punya pacar yang udah jadi perwira.
Aku menulis ini karena isi dari pidato presiden SBY di Magelang dalam rangka Prasetya Perwira 2012.
Mmm.. Saat aku menulis ini prasetya perwira masih berlangsung di Magelang sana. Aku tahu karena disamping pc ada TV yang sedang menampilkan acaranya secara langsung.
Oke, kembali ke pidato Pak SBY. Biasalah yaa.. karena ini semacam acara "wisuda" gitu jadi isi pidatonya ya sekitar wejangan setelah lulus. Intinya adalah untuk terus mengaplikasikan ilmu dan menjaga profesionalisme bagi perwira baru di TNI dan POLRI tersebut. Untuk TNI yaa isinya menjaga kedaulatan negara, perbatasan, dan pertahanan negara. Nah kalo POLRI diminta profesionalismenya dalam bertugas and so on.
Dan kemudian aku ingat sesuatu, aku ingat sama beberapa kenalan ku yang udah lulus akademi beberapa tahun yang lalu (most of them are TNI). Mereka itu orang-orang yang menurut aku bener-bener bisa dicontoh bagaimana profesionalismenya. Tugas adalah tugas gak ada yang namanya nanti dulu. Kadang suka udah malam, badan udah capek banget terus dikasih tugas ya harus selesai saat itu juga. Penempatan di perbatasan yang fasilitasnya terbatas juga dilalui atas nama tugas. Mereka juga hormat banget sama atasannya, dikit dikit "Ijin ndan..." "Siap ndan.." hahahaa. Oh dan tanggung jawab mereka terhadap barang juga bagus, senjata misalnya. Ada beberapa orang yang aku kenal bikin istilah gini: senjata itu istri pertama. Terus ada juga yang pernah bilang "Wah Rul kalo senjata ini hilang, bisa digantung saya".
Temen-temen ku yang udah terjun ke penugasan itu mengajari aku tentang banyak hal. Integritas, profesionalisme, dan pengabdian. Mereka juga orang yang terus semangat, misalnya nih semangat penugasan (bayangin ditugasin di daerah pedalaman hutan antah berantah aja semangat), semangat latihan fisik yaa minimal jogging setiap hari, semangat banget kalo dikasih kursus, dan semangat mengabdi pada negara. Yang terakhir ini yang sering bikin aku tersentuh, mereka rela pergi jauh ke pedalaman dan jauh keluarga karena tugas negara.
Aku sering nanya ke mereka"Kok mau sih jadi pergi ke pedalaman, ga ada sinyal, jauh, fasilitas susah?" dan dengan entengnya cuma bilang "Yah namanya juga abdi negara". Kalo udah jawab begitu biasanya aku speechless dan langsung ganti topik. Ga kuat. Hahahaa.
Oh ya dan mereka seneng banget karena sekarang ada remunerasi. Hahaha. Yaaa masalah gaji pokok para aparat negara udah bukan rahasia lagi lah ya. Itulah, dengan gaji dan fasilitas yang jumlahnya ga fantastis bisa dibilang mereka sudah berkorban luar biasa loh. Beda hal sama pride yang didapat loh ya. Hihihi
Hmm... Semoga yang abis Praspa hari ini bisa jadi perwira yang baik ya. Jujur, amanah, dan bisa mengayomi masyarakat serta bawahannya. Tetap semangat ya mengabdi pada negara. Insyaallah kalo kerjanya ikhlas dapat bonus pahala juga ;)
Ps: Seorang taruna yang udah jadi perwira bisa jadi orang yang berbeda, mungkin karena pengalaman saat di lapangan :D
Bukan juga karena punya pacar yang lagi ikut prasetya perwira.
Atau karena punya pacar yang udah jadi perwira.
Aku menulis ini karena isi dari pidato presiden SBY di Magelang dalam rangka Prasetya Perwira 2012.
Mmm.. Saat aku menulis ini prasetya perwira masih berlangsung di Magelang sana. Aku tahu karena disamping pc ada TV yang sedang menampilkan acaranya secara langsung.
Oke, kembali ke pidato Pak SBY. Biasalah yaa.. karena ini semacam acara "wisuda" gitu jadi isi pidatonya ya sekitar wejangan setelah lulus. Intinya adalah untuk terus mengaplikasikan ilmu dan menjaga profesionalisme bagi perwira baru di TNI dan POLRI tersebut. Untuk TNI yaa isinya menjaga kedaulatan negara, perbatasan, dan pertahanan negara. Nah kalo POLRI diminta profesionalismenya dalam bertugas and so on.
Dan kemudian aku ingat sesuatu, aku ingat sama beberapa kenalan ku yang udah lulus akademi beberapa tahun yang lalu (most of them are TNI). Mereka itu orang-orang yang menurut aku bener-bener bisa dicontoh bagaimana profesionalismenya. Tugas adalah tugas gak ada yang namanya nanti dulu. Kadang suka udah malam, badan udah capek banget terus dikasih tugas ya harus selesai saat itu juga. Penempatan di perbatasan yang fasilitasnya terbatas juga dilalui atas nama tugas. Mereka juga hormat banget sama atasannya, dikit dikit "Ijin ndan..." "Siap ndan.." hahahaa. Oh dan tanggung jawab mereka terhadap barang juga bagus, senjata misalnya. Ada beberapa orang yang aku kenal bikin istilah gini: senjata itu istri pertama. Terus ada juga yang pernah bilang "Wah Rul kalo senjata ini hilang, bisa digantung saya".
Temen-temen ku yang udah terjun ke penugasan itu mengajari aku tentang banyak hal. Integritas, profesionalisme, dan pengabdian. Mereka juga orang yang terus semangat, misalnya nih semangat penugasan (bayangin ditugasin di daerah pedalaman hutan antah berantah aja semangat), semangat latihan fisik yaa minimal jogging setiap hari, semangat banget kalo dikasih kursus, dan semangat mengabdi pada negara. Yang terakhir ini yang sering bikin aku tersentuh, mereka rela pergi jauh ke pedalaman dan jauh keluarga karena tugas negara.
Aku sering nanya ke mereka"Kok mau sih jadi pergi ke pedalaman, ga ada sinyal, jauh, fasilitas susah?" dan dengan entengnya cuma bilang "Yah namanya juga abdi negara". Kalo udah jawab begitu biasanya aku speechless dan langsung ganti topik. Ga kuat. Hahahaa.
Oh ya dan mereka seneng banget karena sekarang ada remunerasi. Hahaha. Yaaa masalah gaji pokok para aparat negara udah bukan rahasia lagi lah ya. Itulah, dengan gaji dan fasilitas yang jumlahnya ga fantastis bisa dibilang mereka sudah berkorban luar biasa loh. Beda hal sama pride yang didapat loh ya. Hihihi
Hmm... Semoga yang abis Praspa hari ini bisa jadi perwira yang baik ya. Jujur, amanah, dan bisa mengayomi masyarakat serta bawahannya. Tetap semangat ya mengabdi pada negara. Insyaallah kalo kerjanya ikhlas dapat bonus pahala juga ;)
Ps: Seorang taruna yang udah jadi perwira bisa jadi orang yang berbeda, mungkin karena pengalaman saat di lapangan :D
Langganan:
Postingan (Atom)







